Kontras.co.id – Samsung tampaknya mulai mempersiapkan panggung untuk generasi flagship berikutnya. Menjelang debut yang diperkirakan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang, Galaxy S27 dan Galaxy S27+ dilaporkan telah muncul di basis data sertifikasi 3C China.
Kemunculan di lembaga sertifikasi tersebut menjadi sinyal menarik karena biasanya perangkat yang sudah masuk tahap sertifikasi menandakan proses pengembangan dan persiapan peluncuran mulai memasuki fase yang lebih serius.
Meski belum mengungkap seluruh spesifikasi, daftar 3C setidaknya memberikan bocoran mengenai kemampuan pengisian daya kedua smartphone tersebut.
Dalam database 3C, Galaxy S27 tercatat menggunakan nomor model SM-S9520. Sementara versi yang lebih besar, Galaxy S27+, muncul dengan nomor model SM-S9560.
Informasi yang paling mencuri perhatian adalah sektor pengisian daya. Galaxy S27 disebut mendukung pengisian hingga 27W, sedangkan Galaxy S27+ mendapatkan dukungan charging hingga 45W.
Jika informasi tersebut benar, Samsung tampaknya masih belum berniat melakukan lompatan besar pada teknologi pengisian daya di lini flagship regulernya.
Galaxy S27 juga tercatat tidak menyertakan adaptor charger di dalam kotak. Artinya, pengguna kemungkinan harus menggunakan charger yang sudah dimiliki atau membeli adaptor secara terpisah untuk mendapatkan kecepatan pengisian maksimal.
Kecepatan 27W pada Galaxy S27 menarik karena Samsung selama bertahun-tahun memang dikenal cukup konservatif dalam urusan fast charging.
Lini Galaxy S reguler telah mempertahankan kemampuan pengisian sekitar 25W sejak Galaxy S20 yang diperkenalkan pada 2020.
Jika Samsung Galaxy S27 benar-benar hadir dengan kemampuan 27W, perangkat ini masih berada di kelas yang sama dan menunjukkan bahwa Samsung belum menjadikan peningkatan besar dalam kecepatan charging sebagai prioritas utama.
Dengan demikian, Samsung Galaxy S27 berpotensi menjadi generasi ketujuh secara beruntun yang mempertahankan pendekatan pengisian daya serupa pada model Galaxy S reguler.
Bagi sebagian pengguna, keputusan ini mungkin terasa mengecewakan. Pasalnya, sejumlah kompetitor di kelas flagship sudah menawarkan teknologi pengisian daya dengan kapasitas jauh lebih tinggi.
Berbeda dengan model standar, Samsung Galaxy S27+ tampaknya akan tetap mempertahankan pengisian cepat 45W.
Samsung pertama kali membawa teknologi 45W ke model Galaxy S22+ pada 2022. Sejak saat itu, kemampuan tersebut terus digunakan pada sejumlah generasi berikutnya.
Jika Galaxy S27+ kembali menggunakan 45W, berarti Samsung mempertahankan konfigurasi tersebut untuk lima tahun berturut-turut.
Keputusan ini menunjukkan strategi Samsung yang cenderung mengutamakan keseimbangan antara kecepatan pengisian, suhu perangkat, efisiensi baterai, dan keamanan dibanding sekadar mengejar angka watt yang besar.
Munculnya Samsung Galaxy S27 dan S27+ di sertifikasi 3C juga menjadi petunjuk bahwa pengembangan generasi terbaru Galaxy S semakin matang.
Meski sertifikasi tersebut belum mengungkap informasi seperti kapasitas baterai, chipset, kamera, layar, maupun desain, keberadaan nomor model resmi memberikan gambaran bahwa Samsung mulai mempersiapkan perangkat untuk memasuki pasar.
Namun, perlu dicatat bahwa sertifikasi bukan berarti Samsung telah mengumumkan tanggal peluncuran resmi. Jadwal debut Galaxy S27 masih harus menunggu konfirmasi langsung dari Samsung.
Jika melihat pola sebelumnya, informasi mengenai perangkat biasanya akan semakin banyak bermunculan menjelang peluncuran. Karena itu, bocoran berikutnya kemungkinan akan mengungkap lebih banyak detail mengenai performa, kamera, baterai, desain, hingga fitur kecerdasan buatan yang bakal menjadi andalan seri Galaxy S27.
Untuk saat ini, satu hal yang mulai terlihat jelas: Galaxy S27 dan S27+ kemungkinan masih membawa pendekatan Samsung yang hati-hati dalam urusan pengisian daya. Galaxy S27 berada di kisaran 27W, sedangkan Galaxy S27+ tetap mengandalkan 45W.
Bagi penggemar Samsung yang berharap flagship generasi baru hadir dengan charging jauh lebih cepat, informasi ini tentu menjadi kabar yang patut diperhatikan. Sebab, di tengah persaingan smartphone premium yang semakin ketat, kecepatan mengisi baterai kini bukan sekadar angka di atas kertas, tetapi telah menjadi bagian penting dari pengalaman pengguna sehari-hari.












