Kontras.co.id – Sebanyak 43 mahasiswa asal Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), khususnya dari Pinolosian Bersatu yang sedang menempuh studi di Gorontalo, mengikuti Pelatihan Teknologi Informasi (Keterampilan IT) yang digelar Kerukunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Pinolosian Bersatu berkolaborasi bersama PT J Resources Bolaang Mongondow, Senin (16/2/2026), di Kantor PW NU Gorontalo.

Pelatihan ini bertujuan membekali mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, terutama dalam menghadapi tantangan Era Society 5.0. Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi seputar tren digital, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), manajemen informasi, serta penguatan literasi digital.
Materi disampaikan oleh akademisi, praktisi teknologi informasi, dan pegiat literasi digital. Peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak memahami bagaimana teknologi diterapkan dalam berbagai sektor, termasuk dunia industri yang kini berbasis sistem digital, pengelolaan data, dan transparansi informasi.
Ketua KPMIPB, Gulam Lapatola, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada PT JRBM atas kolaborasi dan dukungan yang diberikan dalam pelaksanaan kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih kepada PT JRBM atas terjalinnya kolaborasi ini serta support yang luar biasa. Dukungan ini bukan hanya membantu terselenggaranya kegiatan, tetapi juga menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus meningkatkan kapasitas diri,” ujarnya.
Bupati Bolaang Mongondow Selatan, Iskandar Kamaru, dalam sambutannya mendorong mahasiswa agar berani membangun komunikasi dan menyampaikan gagasan. “Jangan malu-malu menyampaikan ide. Kalau ada gagasan, diskusikan. Pemerintah ada, perusahaan juga ada. Tinggal bagaimana kita membangun komunikasi yang baik,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Dalam diskusi dan obrolan di sela-sela pelatihan, sejumlah mahasiswa mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pentingnya peningkatan kapasitas diri.
“Kami jadi melihat bahwa peningkatan kapasitas itu bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi dasar menyusun program yang lebih matang ketika berdiskusi dengan perusahaan atau pemerintah,” ujar salah satu peserta.
Untuk mengikuti pelatihan ini, mahasiswa mendaftarkan diri kepada panitia dan berkomitmen mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai sesuai ketentuan pelaksana.
Sebagai rencana tindak lanjut (RTL), KPMIPB bersama para peserta akan menerapkan strategi multilevel, yakni mengajarkan kembali materi yang telah diperoleh kepada mahasiswa lain di Bolsel. Langkah ini diharapkan memperluas dampak pelatihan dan memperkuat literasi digital generasi muda di daerah.
Muh. Rudi Rumengan, Manejer Corporate Social Responsibilty (CSR) JRBM yang menjadi salah satu pemateri pelatihan, pada kesempatan itu mengurai tentang profil perusahaan tambang dan kontribusinya kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa industri pertambangan modern tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada pengelolaan dan pemantauan lingkungan, penerapan standar keselamatan kerja, serta implementasi tanggung jawab sosial perusahaan melalui program-program pemberdayaan masyarakat.
Rudi memaparkan bahwa perusahaan tambang memiliki dampak negatif yang harus diminimalkan, seperti potensi kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial, sekaligus dampak positif yang perlu dimaksimalkan, antara lain peningkatan ekonomi daerah, pembukaan lapangan kerja, kontribusi pajak dan royalti, serta program pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi riil, hingga infrastruktur desa lingkar tambang.
Sementara itu, General Manager External Relation and Security PT JRBM, Andreas Saragih, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan kapasitas generasi muda.“ Kolaborasi seperti ini yang kami tunggu. Pembangunan daerah sangat terkait dengan pengembangan kaum mudanya. Sekarang kita harus lebih kreatif berpikir ide,” katanya.
Ia juga mendorong mahasiswa agar tidak berhenti pada satu program.
“Kami bersyukur KPMIPB datang dengan program ini. Silakan datang lagi dengan ide-ide yang kreatif dan produktif. Siapkan kopi yang banyak, nanti kita diskusi sampai pagi,” ujarnya, disambut senyum para peserta.
Ditambahkannya, melalui kolaborasi ini, pelatihan tidak sekadar menjadi agenda teknis, tetapi juga ruang dialog yang membuka peluang kerja sama berkelanjutan antara mahasiswa, pemerintah, dan dunia industri dalam menghadapi transformasi digital yang terus berkembang.*****












