Kontras.co.id — Pernah memasang alarm untuk bangun pagi, tetapi justru terjaga beberapa menit sebelum bunyinya terdengar? Fenomena ini ternyata cukup umum terjadi dan tidak selalu menandakan adanya gangguan tidur.
Kebiasaan terbangun sebelum alarm berbunyi justru bisa menjadi tanda bahwa tubuh telah terbiasa dengan jadwal tidur yang teratur. Namun, jika seseorang terbangun terlalu dini dan sulit kembali tidur, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian.
Ahli neurologi Chris Winter menjelaskan, kebiasaan bangun sebelum alarm dapat berkaitan dengan konsistensi jadwal tidur seseorang.
“Saya pikir ini mungkin terkait dengan gagasan, jika kamu terbangun beberapa menit sebelum alarm berbunyi, kamu mungkin memiliki jadwal tidur yang konsisten,” ujar Winter, dikutip dari laman Sleep, Rabu (7/10/2026).
Ketika seseorang terbangun lebih awal dari alarm dengan kondisi tubuh segar dan bugar, hal itu bisa menunjukkan bahwa pola tidurnya selaras dengan ritme sirkadian.
Ritme sirkadian merupakan sistem biologis alami yang mengatur siklus tidur dan bangun tubuh selama kurang lebih 24 jam. Sistem ini turut memengaruhi suhu tubuh, tekanan darah, kewaspadaan mental, produksi hormon, serta waktu seseorang merasa mengantuk atau terjaga.
Dengan jadwal tidur yang konsisten, tubuh dapat menyesuaikan diri terhadap waktu istirahat dan waktu bangun. Akibatnya, seseorang bisa terjaga secara alami tanpa harus menunggu alarm berbunyi.
Usia Juga Memengaruhi Waktu Bangun
Selain rutinitas tidur, pertambahan usia juga dapat memengaruhi kebiasaan seseorang saat bangun pagi.
Dokter spesialis tidur Jade Wu menjelaskan, ritme sirkadian cenderung bergeser ke waktu yang lebih awal seiring bertambahnya usia. Kondisi ini membuat sebagian orang dewasa yang lebih tua cenderung tidur dan bangun lebih awal dibandingkan ketika masih muda.
“Kombinasi perubahan ini dapat berarti bangun lebih awal daripada saat kita masih muda, dan tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah,” tutur Wu.
Artinya, terbangun sebelum alarm tidak serta-merta menjadi tanda gangguan kesehatan. Selama seseorang mendapatkan tidur yang cukup, merasa segar ketika bangun, dan tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari, kebiasaan tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Waspadai Jika Terbangun Terlalu Dini
Meski demikian, kondisi berbeda perlu diperhatikan ketika seseorang kerap terbangun jauh sebelum waktu yang direncanakan dan tidak mampu kembali tidur. Kebiasaan ini dapat menjadi salah satu gejala insomnia.
Insomnia tidak hanya ditandai dengan kesulitan untuk mulai tidur. Gangguan ini juga dapat berupa kesulitan mempertahankan tidur atau terbangun terlalu dini, kemudian tidak bisa tidur kembali meskipun masih membutuhkan istirahat.
Jika kondisi tersebut berlangsung berulang kali, waktu tidur menjadi berkurang, dan tubuh terasa lelah pada siang hari, dampaknya dapat mengganggu konsentrasi, produktivitas, hingga aktivitas sehari-hari.
Jarak waktu antara saat terbangun dan waktu alarm berbunyi juga patut diperhatikan. Terjaga beberapa menit lebih awal dalam keadaan segar tentu berbeda dengan terbangun berjam-jam sebelum alarm, lalu kesulitan memejamkan mata kembali.
Menurut penjelasan yang dikutip dari laman Sleep, insomnia dengan gejala bangun terlalu dini dapat lebih sulit ditangani dibandingkan jenis insomnia yang ditandai dengan kesulitan memulai atau mempertahankan tidur.
Karena itu, apabila kebiasaan bangun terlalu dini terjadi secara konsisten dan mulai mengganggu kualitas hidup, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebab serta penanganan yang tepat.
Pada akhirnya, terbangun sebelum alarm bukanlah sesuatu yang otomatis berbahaya. Jika tubuh terasa segar dan kebutuhan tidur terpenuhi, hal tersebut bisa menjadi tanda ritme tidur yang teratur. Namun, apabila terbangun terlalu dini disertai kesulitan tidur kembali dan rasa lelah sepanjang hari, jangan abaikan sinyal yang diberikan tubuh.




