Bahaya Telur Setengah Matang untuk Bayi, Ini Alasannya

Ilustrasi telur setengah matang. (Foto: Pixabay)

Kontras.co.id — Telur dikenal sebagai salah satu sumber protein berkualitas tinggi yang baik untuk mendukung pertumbuhan anak. Namun, di balik kandungan gizinya, cara pengolahan telur perlu menjadi perhatian orang tua, terutama saat diberikan sebagai makanan pendamping ASI (MPASI) bagi bayi.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan orang tua agar tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Pasalnya, telur yang tidak dimasak hingga matang berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna.

“Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella yang menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis,” ujar Piprim dalam keterangan tertulis IDAI, Senin (12/10/2026).

Infeksi Salmonella dapat memicu berbagai gejala, mulai dari diare, demam, nyeri perut, muntah hingga dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi ini berpotensi menimbulkan kondisi yang lebih berat, bahkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat.

Piprim menegaskan, pemberian telur mentah atau setengah matang tidak menawarkan keuntungan gizi yang sebanding dengan risiko kesehatannya. Sebaliknya, telur yang dimasak hingga matang dapat menjadi pilihan sumber protein yang aman sekaligus membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Selain kaya protein, telur mengandung berbagai zat gizi penting untuk mendukung pertumbuhan. Pengolahan yang tepat juga membantu meningkatkan keamanan pangan serta memudahkan tubuh mencerna protein yang terkandung di dalamnya.

MPASI Harus Sesuai Usia dan Kesiapan Bayi

Selain memperhatikan cara memasak, orang tua juga perlu memastikan pemberian MPASI sesuai dengan usia dan kesiapan bayi dalam menerima makanan padat.

IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya. Setelah itu, pemberian ASI dilanjutkan bersama MPASI hingga anak berusia dua tahun atau lebih.

Baca juga :  Jangan Meniup Makanan Panas! ini Alasannya bagi Kesehatan

MPASI umumnya mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan. Pada tahap ini, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai meningkat sehingga tidak lagi dapat dipenuhi hanya melalui ASI.

“Pemberian MPASI sebelum usia 4 bulan tidak dianjurkan. Pemberian MPASI sejak usia 4 bulan bukan merupakan rekomendasi rutin, melainkan pertimbangan individual dalam kondisi tertentu,” tuturnya.

Ia menjelaskan, keputusan untuk memberikan MPASI lebih awal harus didasarkan pada penilaian dokter dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, serta kemampuan makan bayi.

Kesiapan bayi menerima MPASI dapat dikenali melalui beberapa tanda, di antaranya mampu mempertahankan posisi kepala dan leher dengan stabil, duduk dengan bantuan, serta mengoordinasikan gerakan mulut untuk menerima dan menelan makanan.

Meski demikian, kesiapan tersebut tidak cukup dinilai dari satu tanda saja. Orang tua perlu memperhatikan keseluruhan perkembangan dan kemampuan bayi sebelum mulai memberikan MPASI.

Dengan memperhatikan usia, kesiapan makan, serta keamanan pengolahan bahan pangan, orang tua dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan sejak dini.