Menu

Mode Gelap

News

Populasi Yaki Kian Turun Akibat Gangguan Manusia


8 Des 2020 15:31 WITA·

Populasi Yaki Kian Turun Akibat Gangguan Manusia Perbesar

KONTRAS MEDIA – Dari laman Zonautara.com, populasi monyet hitam Sulawesi atau yaki (macaca nigra) pada habitatnya di Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHK) Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara, kian menurun sebesar 80 persen sejak 44 tahun terakhir.

Survei teraktual yang dilakukan Macaca Nigra Project (MNP) menyebutkan, gangguan dalam kawasan KPHK Tangkoko yang mengancam hewan primata endemik Sulawesi ini terdiri dari dua faktor, yaitu gangguan terhadap yaki dan gangguan terhadap habitat.


Rismayanti, Head Manager MNP, saat presentasi di acara Publikasi Data Hasil Monitoring Satwa Kunci Yaki yang digagas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara dan Enchancing Protected Area System in Sulawesi (EPASS) di Sutan Raja Hotel, Minahasa Utara, Senin (07/12/2020) menjelaskan bahwa gangguan terhadap yaki berupa kehadiran manusia dan jerat yang sengaja dipasang untuk menjerat yaki.

Ada total 40 jerat yang ditemukan di sepanjang 9,7 kilometer (km) jalur penelitian dan 48 kehadiran manusia di KPHK Tangkoko.

“Gangguan terhadap habitat yaki diakibatkan oleh jumlah pohon yang hilang. Hal ini disebabkan faktor manusia yang mencakup illegal loggingdan pembakaran lahan; serta faktor alam yang mencakup kebakaran dan angin,” kata Rismayanti.


Berdasarkan hasil survei tersebut, ditemukan gangguan terhadap habitat yaki terbanyak disebabkan adanya illegal logging di dekat area perkampungan dan juga pengaruh musim angin selatan pada kisaran Juli hingga Oktober.

Untuk kepadatan populasi yaki di KPHK Tangkoko dengan panjang jalur penelitian yang dilakukan MNP sejauh 67,90 km, menurut Rismayanti, tercatat rata-rata 14,63 km² per individu.

“Kondisi habitat di KPHK Tangkoko masih memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi dan memiliki komunitas yang mantap,” jelasnya.

Conservation officer MNP Stephan Milyosky Lentey menambahkan bahwa survei MNP dilakukan dari Januari-Desember 2019 dengan tujuan untuk meningkatkan populasi yaki dengan memerhatikan tanaman domestika, kepadatan populasi, kualitas habitat, potensi hewan lain, dan gangguan.

“Ada beberapa hasil penelitian yang dilakukan pihak lain, yang mungkin saja lebih lengkap. Namun untuk sekarang kami memaparkan hasil penelitian MNP sendiri,” kata Stephan.

ZONAUTARA.COM

Artikel ini telah dibaca 0 kali

blank badge-check

Penulis Berita

blank blank blank blank
Baca Lainnya

Konser Kali Kedua di Jakarta, Ed Sheeran Gunakan Music Performer Visa

4 Maret 2024 - 12:02 WITA

blank

Wali Kota Asripan Nani Bersama Forkopimda, Ketua KPU dan Bawaslu Kotamobagu Pantau Kesiapan TPS

13 Februari 2024 - 21:30 WITA

blank

Border, Prosperity dan Security Jadi Fokus Utama Rapat Pimpinan Imigrasi

31 Januari 2024 - 10:15 WITA

blank

Belajar Soal Sistem Keterbukaan Informasi, Komisi II DPRD Tomohon Kunker ke Diskominfo Kotamobagu

16 Januari 2024 - 15:19 WITA

blank

Sukseskan Pilkda 2024, KPU dan Pemda Boltim Teken NPHD

10 Januari 2024 - 18:03 WITA

blank

Jadi Lokasi Zikir dan Doa Sambut Tahun Baru 2024, Kesiapan Eks Rujab Ilongkow Ditinjau Pj Wali Kota

30 Desember 2023 - 19:59 WITA

blank
Trending di News