Pagi menyapa perbukitan Bolaang Mongondow Selatan. Jalan-jalan yang kini dipenuhi kendaraan, gedung-gedung pemerintahan yang berdiri kokoh, sekolah-sekolah yang semakin ramai, hingga denyut ekonomi yang terus bergerak, menjadi pemandangan yang nyaris tak terbayangkan dua dekade silam.
Sulit membayangkan bahwa daerah yang kini berdiri percaya diri sejajar dengan banyak kabupaten lain di Indonesia itu, pernah menjadi wilayah yang harus berjuang keras memperoleh hak untuk mengatur rumah tangganya sendiri.
Di balik lahirnya kabupaten ini, sejarah mencatat satu nama yang tak mudah dipisahkan: Ny. Hj. Marlina Moha Siahaan. Bagi banyak masyarakat, ia bukan sekadar tokoh politik, melainkan “Bunda Pembaharu” yang ikut memperjuangkan lahirnya Bolaang Mongondow Selatan sebagai daerah otonom.
Perjuangan itu bukan sekadar proses administratif di atas meja birokrasi. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut keberanian, lobi politik, serta keyakinan bahwa masyarakat di wilayah selatan Bolaang Mongondow layak memperoleh pelayanan pemerintahan yang lebih dekat, pembangunan yang lebih merata, dan masa depan yang lebih baik.
Ketika status daerah otonom akhirnya terwujud, pekerjaan besar justru baru dimulai.
Kabupaten baru itu lahir dengan berbagai keterbatasan. Infrastruktur masih minim. Pelayanan publik belum sepenuhnya tersedia. Jalan penghubung antardesa masih menjadi keluhan masyarakat. Potensi daerah masih menunggu untuk digerakkan.
Tongkat pembangunan kemudian berada di tangan almarhum Hi. Herson Mayulu. Di bawah kepemimpinannya, fondasi pembangunan mulai diletakkan. Jalan dibuka, jembatan dibangun, fasilitas pendidikan dan kesehatan diperkuat, serta roda pemerintahan mulai berjalan lebih terarah. Sedikit demi sedikit, wajah Bolaang Mongondow Selatan berubah.
Kepergian Herson Mayulu tidak menghentikan langkah daerah ini.
Estafet kepemimpinan diteruskan oleh Iskandar Kamaru, yang memilih menjaga kesinambungan pembangunan. Berbagai program pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan tata kelola pemerintahan terus didorong agar cita-cita para pendiri daerah tidak berhenti sebagai catatan sejarah semata.
Kini, ketika usia Bolaang Mongondow Selatan genap 18 tahun, perubahan itu semakin nyata. Akses antarkecamatan semakin baik, aktivitas pemerintahan semakin tertata, pelayanan kepada masyarakat terus berkembang, dan wajah daerah terus berbenah mengikuti tuntutan zaman.
Namun, usia 18 tahun bukanlah garis akhir.
Ia adalah pengingat bahwa perjuangan para pendiri daerah belum sepenuhnya selesai. Sebab kemajuan tidak boleh berhenti hanya karena sebuah kabupaten telah berdiri. Kemajuan harus terus dijaga, dirawat, dan diwariskan.
Sejarah akan selalu mengingat mereka yang membuka jalan. Tetapi masa depan hanya akan berpihak kepada mereka yang mampu melanjutkan perjalanan.
Karena itu, setiap peringatan hari jadi Bolaang Mongondow Selatan sejatinya bukan hanya seremoni mengenang masa lalu. Ia adalah momentum untuk menghormati perjuangan Ny. Hj. Marlina Moha Siahaan yang ikut memperjuangkan lahirnya daerah ini, mengenang dedikasi almarhum Hi. Herson Mayulu yang meletakkan fondasi pembangunan, serta melanjutkan kerja-kerja pembangunan yang kini diteruskan Iskandar Kamaru.
Delapan belas tahun telah berlalu. Generasi baru mungkin tak lagi merasakan jalan berlumpur, sulitnya pelayanan, atau jauhnya rentang kendali pemerintahan seperti dahulu. Tetapi mereka menikmati hasil dari keberanian orang-orang yang memilih berjuang daripada menyerah.
Itulah warisan sesungguhnya. Bukan hanya sebuah kabupaten yang berdiri di atas peta Indonesia, melainkan sebuah harapan yang terus tumbuh—agar Bolaang Mongondow Selatan tidak sekadar sejajar dengan daerah lain, tetapi terus melangkah menjadi daerah yang maju, mandiri, dan membanggakan bagi generasi yang akan datang.(AH)












