Menebang Kakao Tua, Hajan Menukar Air Mata dengan Masa Depan

Hajan Paputungan. Petani kakao asal Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, saat sedang menunjukan barisan tanaman kakao yang subur. Fahri Rezandi Ibrahim - Kontras.co.id

Kontras.co.id – Pukul 07:00 WITA, Jumat, 18 September 2026. Udara di Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, masih menyisakan dingin pagi.

Matahari baru saja muncul dari balik pepohonan. Embun belum sepenuhnya mengering di daun-daun kakao. Di antara barisan tanaman yang tumbuh hijau, puluhan petani telah menunggu.

Mereka bukan sekadar menunggu kedatangan peserta pelatihan jurnalistik bersama tim pengajar Tempo Institute dan PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM).

Di pinggir kebun itu, mereka menyiapkan hidangan tradisional khas Mongondow, lengkap dengan kopi hangat.

Aroma kopi perlahan bercampur dengan udara kebun yang memeluk erat tubuh, seakan tak ingin pergi.

Namun, pagi itu ada satu cerita yang jauh lebih kuat daripada sekadar hamparan kakao yang subur.

Cerita itu milik seorang lelaki berusia 61 tahun, bernama Hajan Paputungan.

Ia adalah Ketua Kelompok Tunas Baru. Seorang petani yang hari ini memiliki sekitar 2.500 pohon kakao.

Panennya datang hampir setiap dua minggu, dengan hasil yang bisa mencapai Rp30 juta hingga Rp50 juta. Bahkan, dalam kondisi tertentu, pernah menembus Rp60 juta dalam sebulan.

Tetapi angka-angka itu bukanlah awal cerita Hajan.

Sebab, jauh sebelum kebun itu menghasilkan puluhan juta rupiah, Hajan pernah berdiri di tempat yang sama dengan perasaan yang nyaris berlawanan.

Hajan pernah terlilit hutang. Juga menjual kendaraan satu-satunya.

Ia kebingungan mencari uang untuk membiayai dua anaknya yang sedang menempuh pendidikan.

Yang paling berat, ia pernah merasa bahwa kebun kakao yang dirawatnya selama bertahun-tahun tidak mampu menyelamatkan keluarganya.

Pohon-Pohon yang Tak Mampu Menyelamatkannya

Hajan mulai menanam kakao lokal sejak 2012.

Selama kurang lebih 14 tahun, pohon-pohon itu dirawat dengan tenaga dan harapan. Ia menunggu buah tumbuh, panen datang, lalu berharap hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Namun, harapan itu berkali-kali kandas.

Produksi kakao miliknya sangat kecil. Bahkan, menurut Hajan, ada masa ketika hasilnya hampir tidak ada.

“Dulu saya hanya tanam, ya sudah tanam saja. Tidak tahu bagaimana cara merawat dan tidak memiliki ilmu yang cukup untuk mengelola kakao,” kenang Hajan.

Bibit sulit diperoleh. Pupuk juga tergolong langka. Pengetahuan tentang cara mengelola tanaman belum memadai.

Kakao tetap tumbuh. Tetapi, kehidupan keluarganya tidak banyak berubah.

Di sisi lain, dua anak Hajan terus bertumbuh. Kebutuhan pendidikan semakin besar. Uang harus tersedia.

Ketika hasil kebun tidak cukup, utang menjadi jalan keluar.

“Saya berutang, jual kendaraan, agar bisa membiayai anak sekolah dan kebutuhan rumah tangga,” katanya.

Tetapi utang bukan sekadar angka di atas kertas Ada penagih yang datang. Ada kewajiban yang terus menunggu.

Pertanyaan berulang kali di kepala: dari mana uang harus didapatkan?

“Saya makin stres memikirkan kondisi ekonomi. Hasil kakao juga sangat minim,” ujar Hajan.

Di titik itulah Hajan mulai menyadari bahwa ia tidak bisa terus berjalan dengan cara yang sama.

Keputusan yang Membuat Air Mata Jatuh

Kesempatan itu datang ketika program pengembangan kakao PT. JRBM mulai diperkenalkan.

Namun, untuk menerima masa depan, Hajan harus mengorbankan masa lalu.

Satu demi satu batang kakao tua itu tumbang. Bukan karena mati. Bukan pula karena tak lagi berbuah.

Baca juga :  Jemput Bola, Kantor Imigrasi Kotamobagu berikan Pelayanan Eazy Passport di PT. Conch Bolmong

Batang yang selama bertahun-tahun menjadi tempat menggantungkan harapan dipangkas. Kebun yang rindang itu, perlahan berubah.

Tangan terus gemetar saat golok tajam melekat erat di genggamannya. Hajan mengambil keputusan yang berat.

Ketika alat pemotong mulai menyentuh tanaman yang dirawat selama bertahun-tahun, air mata Hajan ikut jatuh.

“Saya beranikan diri,” katanya.

Keputuaan itu bukan tanpa keraguan. Bagaimana jika bibit baru gagal? Bagaimana jika tanaman baru tidak menghasilkan?

Namun Hajan akhirnya memilih mengambil risiko.

“Saya mencoba masuk ke program PT. JRBM ini. Demi anak-anak dan istri saya,” ujarnya.

Hajan tahu, keputusan itu berarti ia harus bersabar dan siap dihantui ketakutan.

Kurang lebih dua tahun, ia tidak lagi bisa mengandalkan penjualan dari kakao lama seperti sebelumnya

Tetapi ia tetap menanam.

Pada 2019, Hajan menerima sekitar 300 bibit untuk penanaman perdana.

Di situlah babak baru hidupnya dimulai.

Dari 300 Bibit dan Sebuah Harapan

Hajan kemudian mengikuti pendampingan yang diberikan PT. JRBM.

Ia belajar bahwa bertani kakao bukan sekadar menanam dan menunggu buah.

Ada jarak tanah yang harus diperhatikan. Ada pemangkasan.

Ada pemupukan.

Ada pengelolaan kelembapan tanah.

Ada teknik penanaman.

Ada pula pengetahuan tentang bibit unggul.

Salah satunya adalah Klon MCC 02, yang menurut pendamping program, memiliki produktifitas tinggi.

Hajan mengikuti arahan itu.

Tanaman baru mulai menunjukan tanda-tanda kehidupan yang berbeda.

Dalam waktu sekitar satu setengah tahun, bunga mulai muncul. Bahkan, menurut pengalaman program yang disampaikan pihak JRBM, ada tanaman yang sudah berbunga sekitar sembilan bulan setelah ditanam.

Kemudian buah muncul. Panen pertama datang. Hajan masih mengingat momen itu.

Hasil yang diperolehnya jauh melampaui perkiraan.

Untuk pertama kalinya, ia melihat kebun kakao bukan sebagai tanaman di atas tanah, tetapi kemungkinan baru untuk kehidupan keluarganya.

“Saya kaget. Hasil panen perdana sudah bisa sampai puluhan juta rupiah. Saya makin semangat,” kata Hajan penuh gembira.

Ia pun semakin yakin. Tanaman yang dulu ia tumbangkan dengan air mata, perlahan digantikan tanaman yang memberinya harapan.

Profesor Kakao dan 310 Petani

Roni Kobandaha. Dijuluki sebagai “Profesor Kakao”, saat sedang memberikan penjelasan proses pendampingan bagi para petani, kepada peserta pelatihan jurnalistik bersama Tempo Institute yang digelar oleh PT. JRBM. Dia adalah pendamping para petani kakao yang ditugaskan oleh PT. JRBM. Fahri Rezandi Ibrahim – Kontras.co.id

Di belakang perubahan itu, ada orang-orang yang terus mendampingi petani.

Salah satunya Roni Kobandaha. Ia adalah pendamping atau konsultan PPM desa lingkar tambang, bidang kakao yang ditugaskan PT. JRBM.

Di kalangan petani,Roni dijuluki “Profesor Kakao.”

Ia melihat sendiri bagaimana perubahan terjadi di kebun-kebun milik petani.

Menurut pria berkepala plontos itu, program pembinaan kakao telah membawa perubahan bagi banyak keluarga petani.

Ada yang mampu membangun rumah, menyekolahkan anak, bahkan ada yang bisa berangkat umrah.

Roni menyebut, sekitar 80 persen petani kakao binaan PT. JRBM telah menunjukan keberhasilan. Sementara petani lainnya mulai merasakan dampak positif dari hasil kakao.

Program itu dimulai dari kelompok-kelompok kecil.

Kini menurut data yang disampaikan Roni, terdapat puluhan kelompok dengan ratusan petani yang mendapat pendampingan.

“Program ini dimulai sejak 2019. Ada 310 petani kakao binaan yang dibagi dalam 30 kelompok,” sebut Roni.

Perubahan itu tidak hanya berhenti pada kebun. Petani didorong memiliki kemampuan membuat pupuk sendiri.

Baca juga :  Diduga Konsumsi Narkotika, BNN Sulut Amankan 10 Karyawan PT Perumahan Pembangunan
Para peserta pelatihan jurnalistik bersama dengan petani kakao, Tempo Institute dan Presiden Direktur PT. JRBM, saat mengunjungi lokasi produksi pupuk cair.

Dua tempat produksi pupuk dibangun untuk menghasilkan pupuk organik cair dan padat.

Bagi tanaman kakao, pupuk bukan sekadar pelengkap.

Ia menjadi nutrisi yang menentukan pertumbuhan dan produktivitas.

Suasana produksi pupuk padat yang dikelola petani kakao binaan PT. JRBM. Fahri Rezandi Ibrahim – Kontras.co.id

Bukan Sekadar Memberi Bibit

Taufik Pontoh, External Relation PT. JRBM, mengatakan perjalanan program pengembangan kakao sebenarnya telah dimulai sejak 2016.

Konsep awalnya adalah mempertahankan tanaman lokal, kemudian melakukan teknik sambung atau penempelan dengan klon unggul.

Pada 2019, pembinaan kemudian dimulai dengan dua kelompok yang beranggotakan sekitar 20 orang.

Tantangannya bukan hanya soal teknis pertanian.

Yang lebih sulit adalah meyakinkan petani bahwa perubahan tersebut benar-benar bisa menjadi jalan menuju masa depan.

Taufik masih mengingat bagaimana sulitnya meyakinkan petani.

Bahkan, pernah ada tantangan yang cukup ekstrem. Petani diminta percaya bahwa kakao yang ditanam dengan metode baru mampu memberikan hasil lebih cepat.

Pada akhirnya, waktu yang membuktikan.

Ada tanaman yang mulai berbunga hanya dalam waktu sembilan bulan. Sekitar satu setengah tahun kemudian, ada yang memasuki masa panen.

Harapan yang sebelumnya terdengar seperti janji, perlahan berubah menjadi buah yang bisa dipetik.

“Di tanah Bolaang Mongondow hanya tiang listrik yang tidak tumbuh meski ditanam di tanah,” kata Taufik, menggambarkan kesuburan tanah di daerah tersebut.

Taufik Pontoh, External Relation PT. JRBM, saat menjelaskan perjalanan program pengembangan kakao di wilayah lingkar tambang, kepada para peserta pelatihan jurnalistik. Fahri Rezandi Ibrahim – Kontras.co.id

Dari dua kelompok awal, program terus berkembang.

Kini, pembinaan telah menjangkau lebih banyak kelompok. Bahkan, dua sekolah dijadikan tempat pelatihan untuk menyiapkan petani generasi baru

Bagi mereka, keberlanjutan kakao tidak hanya ditentukan oleh pohon yang tumbuh hari ini. Tetapi juga oleh generasi yang akan merawatnya esok hari.

Ketika Kemarau Datang

Namun, kebun kakao tetaplah kebun. Ada musim yang bersahabat. Ada pula musim yang menguji.

Hampir tiga bulan, musim kemarau melanda Bolaang Mongondow.

Bagi petani kakao, kondisi itu menjadi ancaman.

Tanaman membutuhkan air. Tanah yang terlalu kering dapat mengganggu pertumbuhan dan produksi.

Hajan dan petani lainnya pun sempat khawatir. Tetapi pendampingan tidak berhenti.

Untuk menjaga pasokan air, PT. JRBM menyiapkan sumur bor beserta peralatan pendukungnya.

Para petani juga diajarkan menjaga kelembapan tanah dengan cara sederhana.

Dedaunan yang jatuh tidak buru-buru dibersihkan. Ia dibiarkan berada di bawah pohon.

Bagi mata yang tidak memahami pertanian, daun-daun itu mungkin terlihat seperti sampah.

Tetapi bagi petani kakao, ia bisa menjadi pelindung tanah dari teriknya matahari, sekaligus menjadi bahan organik.

Daun kering yang jatuh, tidak diangkat. Tujuannya, agar memberikan kelembapan tanah di musim kemarau. Fahri Rezandi Ibrahim – Kontras.co.id

Jarak tanam pun diatur.

Hajan menyebut, jarak antar tanaman disesuaikan sekitar empat meter, agar produksi buah lebih maksimal.

Lahan kosong juga dimanfaatkan untuk menambah tanaman baru. Dengan cara itu, jumlah pohon terus bertambah.

Dari 300 bibit pada penanaman awal, kini Hajan memiliki sekitar 2.500 pohon kakao.

Dan jumlah itu belum berhenti.

Harga Kakao dan Rezeki yang Berubah

Perubahan kebun juga datang bersamaan dengan meningkatnya harga kakao.

Pada periode 2024 hingga 2025, harga kakao sempat mencapai sekitar Rp160 ribu per kilogram.

Saat ini, menurut Hajan, harga berada di kisaran Rp97 ribu per kilogram.

Petani bisa menghasilkan sekitar 200 kilogram biji kering dalam periode panen tertentu. Ada yang memanen setiap tujuh hari, ada pula yang setiap 10 hari atau dua minggu.

Baca juga :  Bolmut Ketambahan 18 Kasus Baru Konfirmasi Positif Covid-19

Perbedaannya bergantung pada waktu tanam dan kondisi masing-masing kebun. Hasil panen kemudian dijual kepada pengepul.

Bagi Hajan, angka-angka itu bukan sekadar angka ekonomi. Setiap kilogram kakao memiliki cerita.

Ada biaya sekolah di dalamnya. Ada cicilan utang yang terbayar. Ada rumah yang diperbaiki. Ada dapur yang kembali mengepul tanpa kecemasan seperti dulu.

Dan ada dua anak yang kini bisa duduk di bangku universitas.

Kini, Hajan berdiri di antara ribuan pohon kakaonya. Usianya tak muda lagi.

Namun langkahnya di kebun masih menyimpan semangat yang sama seperti ketika pertama kali menerima 300 bibit pada 2019.

Bedanya, hari ini ia tidak lagi datang ke kebun dengan rasa takut. Ia datang dengan keyakinan.

Panen setiap dua minggu dapat menghasilkan sekitar Rp30 juta hingga Rp50 juta. Bahkan bisa menembus angka Rp60 juta dalam sebulan.

Penghasilan itu membuat kehidupan keluarganya berubah.

Kedua anaknya bisa kuliah di universitas yang mereka inginkan.

Utang-utang yang dulu menghantuinya dapat dilunasi. Rumah pun kini lebih layak, dan kehidupan keluarga menjadi lebih baik.

Semua itu bermula dari sebuah keputusan yang menyakitkan: menumbangkan pohon-pohon yang telah ia rawat selama 14 tahun.

Hajan tidak pernah melupakan hari ketika batang-batang kakao lama itu dipangkas.

Sebab, ia tahu, di balik setiap pohon yang tumbang ada air mata seorang ayah yang sedang mempertaruhkan masa depan keluarganya.

“Saya sangat bersyukur karena PT. JRBM peduli kepada petani, khususnya petani kakao,” ucapnya.

Kini, Hajan tidak hanya menanam kakao. Ia menanam keyakinan dan harapan.

Dan di antara barisan 2.500 pohon kakao yang terus tumbuh itu, ia melihat sesuatu yang dahulu hampir hilang dari hidupnya: masa depan.

Pagi di Matali Baru akhirnya semakin terang.

Kopi Mongondow yang tadi disajikan untuk para tamu, perlahan tinggal menyisakan aroma di udara.

Matahari naik lebih tinggi. Cahaya menembus pohon-pohon itu. Hajan masih bercerita.

Tentang masa lalu.

Tentang utang.

Tentang anak-anaknya.

Tentang pohon-pohon yang pernah ia tumbangkan sambil menangis.

Dan tentang 300 bibit yang kemudian mengubah hidupnya.

Barangkali, tidak semua orang akan memahami mengapa seorang petani bisa menangis hanya karena menebang pohon.

Tetapi bagi Hajan, pohon-pohon itu bukan sekadar batang dan daun. Itu adalah 14 tahun hidupnya.

Hajan saat menunjukan buah kakao siap panen. Fahri Rezandi Ibrahim – Kontras.co.id

Ia memang pernah menumbangkan masa lalu. Tetapi di tanah yang sama, ia menanam sesuatu yang lebih besar: kesempatan membuat keluarganya hidup lebih baik.

Dan hari ini, setiap buah kakao yang jatuh ke telapak tangannya, seolah menjadi jawaban atas satu pertanyaan yang pernah menghantuinya selama bertahun-tahun.

Benarkah kebun bisa mengubah hidup kami?

Jawabannya kini tumbuh ribuan batang di hadapannya. ***