Jumat, 18 Juli 2025 – Pernahkah Anda menyadari bahwa saat rumah Anda kebakaran atau ada anggota keluarga yang sakit mendadak di tengah malam, bukan saudara kandung di luar kota yang pertama datang, melainkan orang yang tinggal tepat di sebelah dinding rumah Anda?
Dalam sosiologi Islam, kedudukan tetangga menempati hierarki yang sangat unik. Mereka adalah “kerabat sosial” yang posisinya terkadang lebih krusial daripada kerabat biologis. Saking pentingnya, Rasulullah SAW menjadikan perlakuan kita terhadap tetangga sebagai barometer keimanan. Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal dengan Tuhan (Hablum Minallah), tetapi juga menekankan hubungan horizontal yang harmonis (Hablum Minannas), di mana tetangga adalah lingkaran terdekat setelah keluarga inti.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai adab bertetangga, bahaya mengabaikannya, dan implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
1. Indikator Validitas Iman
Dalam teori keimanan Islam, iman bukanlah sekadar pengakuan lisan atau keyakinan dalam hati, melainkan harus dibuktikan dengan amal perbuatan (Amal Shaleh). Salah satu bukti otentik iman seseorang adalah bagaimana ia memperlakukan tetangganya.
Rasulullah SAW memberikan ultimatum yang tegas:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menyandingkan iman kepada Allah (Rukun Iman pertama) dan Hari Akhir (Rukun Iman kelima) dengan adab bertetangga. Ini menunjukkan bahwa menyakiti tetangga adalah dosa besar yang mencederai integritas keimanan seseorang.
2. Paradoks Kesalehan: Ahli Ibadah yang Masuk Neraka
Seringkali kita terjebak pada konsep “Kesalehan Ritual” (rajin sholat, puasa), namun melupakan “Kesalehan Sosial”. Islam menolak dikotomi ini. Ada sebuah kisah masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Hakim, yang menjadi warning keras bagi kita:
Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, fulanah (seorang wanita) dikenal banyak sholat, sedekah, dan puasanya. Namun, ia sering menyakiti tetangga dengan lisannya.” Rasulullah SAW menjawab singkat namun mengerikan: “Dia di neraka.”
Kemudian sahabat itu bertanya lagi tentang wanita lain yang ibadah sunnahnya sedikit (hanya sholat wajib dan bersedekah keju/makanan sederhana), namun ia menjaga lisannya dan tidak menyakiti tetangganya. Rasulullah SAW bersabda: “Dia di surga.”
Teori Keseimbangan Amal dari kisah ini mengajarkan bahwa pahala ibadah ritual yang melimpah bisa “bangkrut” atau habis tergerus akibat dosa menyakiti tetangga. Ibadah vertikal harus berbanding lurus dengan akhlak horizontal.
3. Wasiat “Kuah Sayur”: Simbol Kepedulian Sosial
Bagaimana cara memulai berbuat baik? Islam mengajarkan Micro-Kindness (kebaikan-kebaikan kecil). Tidak harus dengan harta benda yang mewah. Rasulullah SAW memberikan tips praktis kepada Abu Dzar Al-Ghifari:
“Kalau kamu memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya. Kemudian lihatlah keluarga dari tetanggamu. Dan berilah mereka dengan baik.” (HR Muslim).
Filosofi “memperbanyak kuah” mengajarkan kita untuk berbagi apa yang kita mampu, bukan menunggu kaya baru berbagi. Esensinya bukan pada harga makanannya, melainkan pada perhatian (attention) dan ikatan hati (bonding) yang terbangun. Lebih jauh, kepedulian ini adalah jaring pengaman sosial. Rasulullah bersabda dalam HR Bukhari:
“Tidaklah disebut Mukmin orang yang kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya.”
4. Patologi Sosial
Berdasarkan dalil “Janganlah menyakiti tetangganya” dan “Tetangga merasa aman dari kejahatannya”, berikut adalah implementasi larangan tersebut dalam konteks modern yang sering kita lupakan:
1) Membangun balkon, jendela lantai atas, atau meninggikan bangunan tanpa penghalang visual yang memadai, sehingga memberikan akses pandangan langsung ke ruang-ruang pribadi tetangga (seperti kamar tidur atau ruang keluarga), yang semestinya tertutup dari pandangan luar.
2) Egoisme Ruang Publik (Parkir Sembarangan): Memarkir mobil di depan pagar tetangga sehingga menghalangi akses keluar-masuk mereka. Ini adalah bentuk kedzaliman modern yang nyata.
3) Polusi Bau & Sampah: Membakar sampah yang asapnya masuk ke rumah tetangga, atau membiarkan tumpukan sampah berbau busuk di perbatasan rumah.
4) Teror Lisan (Ghibah & Fitnah): Seperti dalam hadis di atas, membicarakan aib tetangga kepada orang lain atau menyindir mereka. Ini adalah gabungan dosa Ghibah (menggunjing) dan Namimah (adu domba). Inilah dosa spesifik yang disinggung Rasulullah dalam hadis tentang wanita ahli ibadah yang masuk neraka, ibadahnya hancur lebur karena dan “lidahnya yang tajam” terhadap tetangga bisa menghapus pahala sholat.
5) Hasad (Iri Dengki): Merasa sakit hati atau tidak senang ketika tetangga membeli mobil baru atau mendapat rezeki, lalu berupaya menjatuhkannya. Islam mengajarkan kita justru harus ikut bahagia.
5. Tetangga adalah Cerminan Diri
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya.” (HR Tirmidzi).
Mari kita evaluasi diri. Jika kita ingin tahu posisi kita di sisi Allah, lihatlah bagaimana hubungan kita dengan tetangga. Mulailah dengan senyum, sapaan hangat, atau sekadar berbagi makanan kecil. Karena boleh jadi, surga kita pintunya ada di sebelah rumah.



