Teguh Raharjo Pengusaha Ulung yang Sukses Berpolitik

1

Kontras.co.id- Dia adalah pengusaha, politisi dan tokoh yang kaya prestasi dan tentunya sangat melekat jiwa religius . Dikenal bersahaja. Memiliki semangat yang tinggi dalam melahirkan ide-ide cemerlang untuk perubahan dan satu lagi ciri khas beliau ini yakni murah tersenyum dalam setiap kesempatan.

Lahir di Muara Aman Kabupaten Lebong, 28 Agustus 1968 Teguh Raharjo Eko Purwoto atau sapaan akrabnya Teguh R.E.P. Bila sebelumnya sudah ada yang mengulas perjalanan singkat beliau namun, pada kesempatan yang sangat istimewa, tim redaksi Kontras.co.id berkesempatan ngobrol hangat dan panjang lebar dengan Bang Teguh.

Kurang lebih satu jam lebih ngobrol santai dengan beliau. Kami disambut dengan penuh keakraban. Tidak banyak yang mengetahui perjalanan hidup dan sepak terjang beliau hingga berhasil dua kali diamanahkan menjadi anggota DPRD Kabupaten Lebong hingga saat ini. Lebihnya lagi, beliau ini pernah menjadi ketua DPRD Lebong periode 2014-2019.

Menariknya lagi saat itu beliau pertama kali mencalonkan diri dan berhasil meraih suara partai terbanyak. Begini cerita singkat beliau dengan berbagai sudut pandang pertanyaan yang dikemas dalam sesi wawancara santai.

Teguh R.E.P bukan terlahir dari keluarga yang mapan atau berkecukupan dan sempat berkeingina kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Padjajaran Bandung.

Teguh R.E.P : “Saya lahir di Kabupaten Lebong 28 Agustus 1968, di sekolahkan di TK Muhammadiyah, SD Center 2 Lebong Utara, Kemudian SMP 1 Lebong Utara, SMA 1 Lebong Utara. Disini saya sampai kelas 1 karena faktor ekonomi keluarga naik kelas 2 saya dipindahkan ke Solo SMA 5 (Surakarta) kebetulan ada keluarga disana. Pernah ingin kuliah di Universitas Padjajaran Bandung, ambil jurusan kedokteran.

Saat itu semangat pribadi saya tidak mengkaji lagi tentang situasi dan kondisi ekonomi orang tua, pada akhirnya saya harus merelakan keinginan kuliah itu hilang karena waktu itu perekonomian keluarga bukan seperti orang-orang yang mapan untuk kebutuhan sehari-hari sekedar cukup. Karena bapak pada saat itu usahanya di ladang pangan, tambang emas tradisional. Kalau ibu untuk menutup kebutuhan sehari-hari itu menjahit pakaian, ada andalan tahunan kami waktu itu bapak saya punya kebun cengkeh. Kala itu ekonomi bisa dibilang kurang mapan. Singkat cerita gagalah cita-cita saya melanjutkan kuliah di jurusan kedokteran,”awal cerita Bang Teguh.

“Namun, semangat untuk sekolah itu masih bergelora dijiwa, melihat latar belakang keluarga yang kurang mapan dari segi pembiayaan saya mulai mandiri, karena ada orang tua latar belakang penambang tradisional, maka saya terjun ke pertambangan emas tradisional. Melanjutkan kebiasaan bapak, maklum baru tamat SMA pengalaman belum ada dan tenaga pun masih kalah jauh dengan penambang-penambang yang lain. Jadi boleh dikatakan tidak dapat hasil yang lumayan, lokasinya itu di Lebong Simpang.

Setelah dua tahun disana, sedikit dapat pengalaman saya pikir ini tidak menjanjikan lalu saya alih profesi dengan belajar memperdalam ilmu mengelolah Kayu Gaharu. Sekira tahun 90-an mulai masuk hutan keluar hutan, akhirnya tahun 1994-1995 saya jadi pedagang Gaharu. Kurang lebih enam tahun saya geluti. Nah, karena ada basic ilmu dasar fisika dan kimia sepanjang bisnis Gaharu, waktu itu pasar Gaharu goyang. Saya pun memutuskan melanjutkan di tambang emas lagi selama tiga tahun sampai 2001.

Waktu itu istri sedang mengandung anak pertama, di tambang emas kadang ada atau tidak,akhirnya saya balik ke Gaharu, karena waktu itu Gaharu sedang ada pasarnya lagi. Dari Basic saya tadi saya memperdalam ilmu Gaharu dan saya membuat penelitan selama enam bulan sampai berjalan sembilan bulan. Sedikit meminta bimbingan secara spiritual dari orang tua angkat yakni Kyai Yunus di Bogor, Alhamdulillah hasil praktek itu berbuah manis,” ,”Dari sinilah cerita karir beliau dimulai

Hasil pertama tadi saya pikir sudah bisa ini mengolah Gaharu menjadi limbah yang super, itu saya coba kirim ke Singapura diawal tahun 2003. Satu minggu setelah itu dapat jawaban dari kawan di singapur dan beliau datang langsung ke Jakarta untuk memastikan hasil praktek saya. Beliau langsung bertanya kepada saya “ Tolong tunjukkan dimana tempat kerjanya,” Kata pengusaha dari Singapur itu.

Kemudian saya bawa ketempat kerja saya. Usai melihat lokasi kerja saya, orang Singapur tersebut langsung minta diantar ke Bandara karena mau balik ke Singapur lagi. Sampai di singapur, beliau kembali menghubungi saya “ Pak Teguh, besok jam 9 (Waktu Singapure) tolong dicek Saldo rekening kamu”, Saat di cek saldo itu 400 juta, Kata orang Singapur itu untuk modal mengembangkan hasil gaharu tersebut.

Nah, dari modal itulah saya kembangkan usaha ini. Sampai akhirnya Alhamdulillah, di Jakarta itu orang pertama yang menemukan cara pengelolaan Gaharu itu adalah saya. Pada tahun 2003 ke 2004 itu nama kita mulai dikenal sampai keluar terutama di negara konsumtipnya Gaharu yakni negara-negara Jazirah Arab.

Akhirnya, boleh dibilang sebagian besar pemain-pemain Gaharu lokal di Jazirah Arab dan Cina itu mendatangi saya minta kontrak kerja. Nah Boomingnya kami menguasai pasar Gaharu Jakarta sampai Jazirah arab itu produk-produknya itu olahan kita. Nah, orang pertama yang membuat Gaharu ini orang Surabaya, tapi di jakarta orang pertama yang membuat Gaharu itu kita.

Nah dari situlah mulai berkembang, saya berpikir ada yang kurang dari saya ini yakni pendidikan, maka saya memutuskan untuk kuliah mengambil bidang Ilmu dasar Ekonomi di Universitas Ibnu Khaldun Jakarta Selatan Tahun 2010-2014. Setelah itu saya terjun ke dunia politik pada tahun 2014 mencalonkan diri. Itu kalau sejarah singkat perjalanan.

Karir Politik

Kalau karir politik yang saya tempuh ini awalnya tidak pernah menyangka dan terpikir bakal menjadi pelaku politik. Waktu itu tahun 2006 bapak bupati kita yang sekarang ini mengunjungi saya ke Jakarta. Beliau bincang-bincang sama saya, beliau mengutarakan berniat terjun kembali mencalonkan diri menjadi kepala daerah di kabupaten Lebong. Beliau menawarkan saya untuk bekerjasama.

Saat itu, setelah berbicang, Saya melihat kok sama dengan perjalanan hidup saya. Jadi itulah awalnya saya pulang ke Lebong membantu beliau. Kebetulan sekali, ada salah satu putra asli Kabupaten Lebong yang sukses berkiprah hingga level nasional yakni Rio Capella. Beliau sudah kenal lama dengan saya dan beliau meminta saya untuk memperkuat daerah Dapil 3 didaerah Lebong Utara. Dari sanalah saya terjun ke dunia politik ditahun 2014 awal. Alhamdulillah saya dipercaya masyarakat dan menjadi Ketua DPRD Kabupaten Lebong.

Motivasi dari dunia bisnis yang tergolong sukses kemudian terjun ke dunia politik???

Ya… bisnis dan politik itu tidak ada bedanya, karena yang kita jual itu produk kemudian sentuhannya adalah subjek. Jadi ketertarikan saya gimana sih membangun dan memberdayakan sumber daya manusia. Kebetulan menurut perspektif saya bisnis juga nanti rujukannya ke arah manusia, dan politik itu juga begitu yang kita jual adalah produk. Saya pikir produk yang muncul itu ada titik klimaks yang bisa kita ambil adalah tingkat kepuasan begitu pula di dunia politik. Ini yang saya coba kembangkan dari bisnis ke dunia politik.

Ketika saya di Jakarta, komunikasi saya dengan masyarakat Lebong ini tidak putus. Alhamdulillah pada saat itu kita jadi rujukan, itu kalau mereka ke Jakarta pasti mampir ke rumah di Jakarta. Sehingga saya berpikir tidak ada salahnya saya mengembangkan diri ke dunia politik karena jaringan saya sudah ada. Alhamdulillah kehadiran saya di dunia politik disambut baik masyarakat Lebong, hingga menghantar saya terpilih menjadi anggota DPRD Lebong dan menjadi ketua.

Saya menyakini ada titik singgung antara kepuasan bisnis dan politik. Pekerjaan yang saya geluti dalam pengelolaan Gaharu sampai-sampai saya jadi penemu dan diakui dunia khususnya konsumen di negara Saudi Arabia, Cina, Vietnam dan Taiwan. Bisnis itu bagaimana kita mengimplementasi imajinasi yang kita masukkan kedalam rasa, saya pikir-pikir politik juga begitu. Ada rasa yang harus kita bangkitkan jadi kalau saya mengambil gambaran bahasa gampang itu ya politik itu bahasa nurani yang mau kita ambil itukan rasa nurani atau rasanya orang (simpati) dan panggilan jiwa.

Nah, ada tingkat kepuasaan tersendiri saat produk yang kita gelontorkan itu sampai ke tengah masyarakat, ada kepuasan saat kita menawarkan kualitas dan kuantitas. Kita tidak mungkin diakui kalau seandainya kita tidak mengakui. Jadi pengakuan kita terhadap diri sendiri itu ada sesuatu (wujud) adanya produk dari diri kita. Entahkah ucapan ataukah tindak tanduk maupun tindakan yang kita lakukan sehari-hari itulah menjadi tolak ukur.

Bagaimana semangat dalam memberikan perubahan kepada masyarakat dan masih diamanahkan menjadi anggota DPRD Kabupaten Lebong???

Sebenarnya saya tidak memiliki basic politik. Saya ini dari SMA sudah terdidik dengan dunia eksak. Kemudian saya geluti dunia bisnis, juga itu memang harus ada hitung-hitungan yang real dengan menguasai dasar. Kebetulan saya terjun ke dunia politik, dapat menjabat satu periode menjadi ketua DPRD. Saya pikir ada ilmu dasar yang harus dikuasai tentang penjiwaan terhadap manusia ke manusia. Lalu saya ambil lagi ilmu dasar tentang hukum di Universitas Hazairin Bengkulu dimulai dari tahun 2017. Jadi setelah saya mengngeluti dunia politik dan dipercaya menjabat sebagai ketua DPRD karena memang basic saya pernah jadi peneliti, jadi di dunia politik pun begitu.

Dijabatan yang saya emban juga seperti itu, saya harus mengetahui dan menguasai dasar.Nah, setelah saya telusuri menurut analisis saya, ini ada ilmu pisikologis individu maupun kehidupan masyarakatnya. Apa sih yang menjadi dasar supaya kita bisa membahas tentang pisikologis maupun sosial kemasyarakatan. Saya kaji, satu-satunya permasalahan ini itu akan bisa terselesaikan apabila kita memahami aturan. Maka, disana saya ambil Fakultas Hukum disana ada dasar-dasar. Hukum itukan berada pada manusia, jadi yang harus diteliti itu tentang manusianya, sedangkan saya sebagai pejabat politik setiap harinya berurusan dengan manusia ke manusia. Jadi saya mempelajari dasar.

Motivasi dan Prinsip dalam kehidupan ???

Kalau untuk prinsip hidup itu cuma satu yakni jujur sama diri sendiri. Insayallah kalau kita jujur dengan diri sendiri tidak ada orang yang dirugikan. Kalau untuk motivasi kedepan yakni betul-betul membawa asa pada lingkungannya.

Jadi prinsip saya begini, apasih yang menjadi mediator kita untuk berinteraksi itu. Kalau kita sudah bisa menguasai dari kata-kata, Insya Allah takdir dari pendengar itu akan berjalan. Jadi ilmu keilmuan yang kita miliki itu Insa Allah akan dinilai positif oleh pendengarnya. Sederhananya bengini, kalau keras itu tidak menusuk, kalau dia tajam itu tidak melukai, kalau dia lembut itu jangan melemahkan. Tapi kalau prinsip yang seperti ini yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari Insa Allah tidak ada ketersinggungan dan tidak ada perselisihan.

Semangat Dalam Memberikan Perubahan Kepada Masyarakat ???

Bahasa penyemangat itu harus kita artikan dengan baik, bukan hanya lepas dengan kata-kata, ucapan yang menggebu-gebu. Jadi penyemangat ini kita harus mengetahui akar masalah dari suatu permasalahan itu. Misalnya, salah satunya ada prinsip-prinsip hukum yang tidak berjalan, karena pada dasarnya hukum itu ada pada manusia, yang harus ditelitii itu manusianya supaya bahasa penyemangat kita ini mendasar. Semenjak saya jadi pejabat politik di kabupaten Lebong ini satu periode saya menelusuri dimana akar permasalahan masyarakat Lebong supaya nanti kalau kita ungkap dan kita ubah inilah yang menjadi semagat mereka.

Saya ibaratkan begini, semangat itu akan muncul dan timbul apabila ada kekuatan di diri seseorang itu. Nah, kekuatan itu muncul dan timbulnya dari pengakuan yang lebih tinggi. Siapa yang lebih tinggi, entahkah itu pejabatnya, pemerintahannya. Ketika yang lebih tinggi ini apakah pejabatnya atau pemerintahannya, tokoh memberikan pengakuan dengan seseorang itu maka itu akan kuat. Dengan begitu semangat hidupnya akan tinggi, jadi akhirnya kita menemukan rumus bahwa pengakuan itu bukan sekedar ucapan namun, ada fakta otentik yang harus kita terapkan di dalam sebuah aturan atau regulasi.

Maka, dari situ saya pikir penyemangat yang harus dimunculkan di tengah masyarakat Kabupaten Lebong itu kita membuat regulasi dan pengakuan terhadap keberadaan itu. Semua kita harus lindungi termasuk hak-hak mereka. Ketika itu terjadi secara otomatis semangat itu akan muncul karena mereka punya kekuatan dan ini yang tidak ada selama ini. Dimasa saya menjabat sebagai ketua DPRD Kabupaten Lebong kita menginisiasi regulasi itu Perda Nomor 4 tentang pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat itu arahnya nanti kepada pengakuan individu sehingga masyarakat Kabupaten Lebong mempunyai suatu kepastian hukum dan mempunyai suatu peluang hak tertentu.

Menurut saya ini bisa dijadikan acuan untuk membangkitkan semangat baik dari kalangan muda umumnya masyarakat, Kabupaten Lebong keseluruhan.

Apa yang menjadi harapan besar Bang Teguh kedepan untuk Kabupaten Lebong ???

Harapan itu tidak terlepas dari tuntunan, manfaatnya manusia atau berhasilnya manusia itu apabila ada nilai manfaatnya untuk orang lain. Kemudian, berkualitasnya seorang manusia itu apabila selamatnya orang lain itu dari ucapan dan tindakannya. Ini harapan kita kedepan. Konsep saya, lahirnya regulasi tentang pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat itu masyarakat lingkungan bisa menikmati dasar-dasar maupun asas-asas manfaat terhadap tindakan yang sudah kita lakukan. Itu mungkin harapan saya.

Saran bagi kalangan muda saat ini ???

Berpikir jernih dan bertindak positif. Lalu, fokus karena sesuatu yang fokus itu Insa Allah akan menjadi seorang ahli nantinya. Apapun bentuknya, kalau fokus.

Pewawancara : Mhitra Naibaho, Thio (Coi)
Penulis              : Mahmud Yunus

Bersambung….

About Author

1 Komentar

  1. Pingback: Mengulik Konsep Kepemimpinan Teguh Raharjo | Kontras.co.id

Leave A Reply