Menu

Mode Gelap

Kesehatan

Vaksinasi Belum Menjamin Seseorang Kebal Virus Corona, WHO Beri Penjelasan


15 Agu 2021 10:26 WITA·

Vaksinasi Belum Menjamin Seseorang Kebal Virus Corona, WHO Beri Penjelasan Perbesar

KESEHATAN, KONTRAS MEDIA – Vaksinasi ternyata tidak menjamin seseorang kebal akan infeksi virus Corona.

Infeksi masih bisa terjadi meski sudah melakukan vaksinasi. Hal itu dinamakan fenomena breakthrough infection.

Oragnisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelasakan, terjadinya fenomena itu bukan berarti vaksin corona tak bekerja dengan baik.

Berdasarkan laporan dari studi yang ada, banyak orang yang sudah divaksin cenderung hanya mengalami gejala ringan bahkan tidak mengalami gejala jika terinfeksi COVID-19.

Ahli penyakit infeksi WHO, Dr Katherine O’Brien, menegaskan kasus breakthrough infection ini jarang terjadi.

Namun, memang jumlahnya terus bertambah yang diduga disebabkan oleh beberapa faktor.

“Ini bukan hal yang umum dan risikonya tidak merata di semua populasi. Ada kelompok tertentu, misalnya punya masalah imun atau umurnya sudah tua, yang lebih berisiko mengalami breakthrough infection,” kata Katherine seperti dikutip dari situs resmi WHO, Sabtu, 15 Agustus 2021.

Apa faktor penyebabnya?

Katherine mengungkapkan faktor yang diduga membuat kasus breakthrough infection terus bertambah adalah karena kelalaian dan munculnya varian baru Corona.

Menurutnya, kelalaian ini dipicu banyaknya orang-orang yang sudah merasa aman setelah melakukan vaksinasi.

Alhasil, mereka mulai lalai menerapkan protokol kesehatan. Tapi, kemungkinan adanya varian Corona juga bisa menjadi penyebab lainnya.

“Kita melihat lebih banyak kasus breakthrough infection, sebagian karena orang-orang berhenti melakukan langkah pencegahan penyebaran virus,” papar Katherine.

“Jadi saat virusnya sendiri berkembang dengan kecepatan dan frekuensi yang lebih tinggi, orang-orang semakin banyak terekspos, termasuk di antaranya yang sudah divaksinasi,” pungkasnya.

Siapa saja yang berisiko mengalami breakthrough infection?

Menanggapi ini, ahli biokimia dr Robert Darnell dari Rockefeller University mengatakan kelompok yang mungkin mengalami fenomena breakthrough infection adalah mereka yang memiliki sistem imun yang lemah.

Ini mungkin terjadi karena vaksin COVID-19 tidak bisa memicu respons antibodi yang kuat, seperti pada orang umumnya.

“Tubuh semua orang merespons vaksin dengan membuat antibodi yang bisa melawan COVID-19. Ada orang yang hanya bisa menghasilkan sedikit antibodi, tapi ada juga yang bisa menghasilkan lebih banyak antibodi. Pada akhirnya ini tergantung individu,” ungkap Robert.

Selain itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga menyebut tiga per empat kasus breakthrough infection ini dialami kelompok orang usia 65 tahun ke atas.

Akibatnya, mereka mengalami kondisi yang parah hingga fatal.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 0 kali

blank badge-check

Penulis Berita

blank blank blank blank
Baca Lainnya

Hamil Ideal Maksimal Usia 35: Penjelasan Medis yang Perlu Kamu Ketahui

29 Maret 2024 - 12:19 WITA

hamil ,hamil di usia tua, risiko hamil di atas 35 tahun ,kehamilan,ciri ciri orang hamil mengenal tanda tanda awal kehamilan

25 Tempat Wisata Favorit di Indonesia

19 Mei 2023 - 04:36 WITA

25 Tempat Wisata Favorit di Indonesia

Penyakit Gula: Apa itu Diabetes?

17 Desember 2022 - 08:24 WITA

Penyakit Gula: Apa itu Diabetes?

3 Alasan Telur Ayam Cocok Jadi Menu Diet

16 Juli 2022 - 17:38 WITA

3 Alasan Telur Ayam Cocok Jadi Menu Diet

Edit Foto di WhatsApp Sekarang Bisa, Begini Caranya

19 April 2022 - 11:19 WITA

Edit Foto di WhatsApp Sekarang Bisa, Begini Caranya

Kapan Terjadinya Malam Lailatul Qadar? Berikut Doa dan Amalan Malam Lailatul Qadar

18 April 2022 - 21:52 WITA

Kapan Terjadinya Malam Lailatul Qadar? Waktu, Doa dan Amalan Malam Lailatul Qadar
Trending di Khazanah