Kiprah Nasirwan Thoha: Belajar di Lingkaran Pusat, Berbakti ke Kampung Halaman

0

Kontras.co.id– Kabupaten Lebong punya sejarah  melahirkan putra-putri terbaiknya yang mampu berkiprah di kancah nasional. Baik di jajaran eksekutif maupun legislatif. Salah satu putra terbaik Lebong itu adalah H. Nasirwan Thoha, SE yang pernah tercatat sebagai Anggota DPR RI Periode Tahun 2008-2009. Singkat memang. Tapi itu adalah capaian yang tak gampang, tak semudah membalik telapak tangan.

Meski hanya setahun, sejatinya karir politik Nasirwan di antara petinggi negeri ini bukan peristiwa satu dua malam. Jarang diketahui, Nasirwan ternyata sudah ada di lingkaran politik nasional sejak muda, baru umur 31 tahun. Ditilik dari daftar riwayat hidupnya, Nasirwan mengawali karir  politiknya sebagai kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia tercatat sebagai Anggota Departemen Penelitian & Pengembangan Dewan Pimpinan Pusat PPP Tahun 1998 – 2003 dan Anggota Departemen Pemenangan Pemilu DPP PPP Tahun 2003 – 2005.

Selama tujuh tahun di jajaran pengurus pusat partai berlambang  ka’bah itu, Nasirwan digembleng politisi senior PPP bernama H. Saiful Anwar Husain yang kala itu menjabat ketua Komisi VII DPR RI yang antara lain membidangi keuangan. Selain belajar politik, oleh Saiful Anwar, Nasirwan muda juga diminta mengurus bagian marketing usaha pemasaran jeruk Pontianak dan Medan bersama seorang putra Saiful Anwar.

Lantas siapa sebenarnya Nasirwan?

Nasirwan lahir pada tanggal 24 Maret 1967. Ia merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan suami-istri,  bapak H Muhamad Toha, SH dan ibu Rukiyah. Muhammad Thoha dan Rukiyah adalah putra-putri asal Lebong. Nasirwan dilahirkan di Kota Bengkulu dan memulai pendidikan  dasarnya di salah satu sekolah dasar Muhammadiyah Bengkulu. Lalu masuk sekolah menengah pertama di SMP N 1 Bengkulu, tepatnya di  Jalan Sudirman.

Satu tahun bersekolah di SMA N 1 Bengkulu, Nasirwan pindah ke Pulau  Jawa, melanjutkan pendidikan di SMA N 7 Yogyakarta.Di kota gudeg ini Nasirwan tinggal di rumah kontrakan bersama dua orang ayundanya, Rahmawati dan Nining–yang kala itu juga sedang menempuh sekolah tinggi.

Tamat SLTA, Nasirwan melanjutkan pendidikan tingginya. Meski tidak bisa memenuhi keinginan orangtua untuk ngampus jurusan kedokteran di Universitas Gajah Mada (UGM), Nasirwan memutuskan mengambil  jurusan yang disukainya di Universitas Indonesia (UII) dengan keilmuan ekonomi menejemen. Selama nenjadi mahasiswa, Nasirwan pun mulai menggeluti dunia organisasi. Ia aktif di Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Bengkulu-Yogyakarta.

“Kami sebagai anak, memang soal pendidikan selalu diperhatikan orang tua karena baginya ilmu itu adalah bekal,” ujar Nasirwan di rumah ibunya di Desa Ujung Tanjung II, Kamis sore (27 Agustus 2020).

Lantaran bersikukuh tak mau menjadi pegawai negeri, Nasirwan yang sudah meraih gelar sarjana ekonomi di UII itu akhirnya dititip sang  ayah kepada H. Saiful Anwar Husain yang kala itu menjabat Ketua Komisi VII DPR RI.

“Saya memang tidak tertarik untuk jadi pegawai negeri sipil, ketertarikan saya ke dunia politik muncul saat saya ikut Haji Saiful Anwar itu,” sampainya.

Namun Nasirwan muda tak lantas belajar politik. Ia yang punya ilmu ekonomi justru diminta mengurus usaha pemasaran jeruk Pontianak dan Medan milik Saiful Anwar Husain. Amanah yang diberikan Anwar Husain dilakoni Nasirwan dengan disiplin dan jujur. Dengan modal itu ia lantas diajak Anwar untuk membantu di bidang keuangan dan menangkap isu-isu DPR RI setelah usaha jeruk bubar. Itu di tahun 1996.

Setelah Anwar Husain meninggal, Nasirwan lanjut mendampingi anaknya sebagai asisten pribadi di DPR RI.  Lalu di tahun 2004, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI wilayah Bengkulu. Namun namanya berada di nomor dua sebagai peraih suara terbanyak. Ini persis dengan kejadian saat dirinya mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI wilayah Tanggerang pada tahun 1998.

Berdasarkan pengalaman dan referensi suara itu, di tahun 2005 Nasirwan pun maju sebagai calon wakil bupati Lebong mendampingi Dalhadi Umar setelah berpamitan dengan keluarga ibunya di wilayah Embong dan Ujung Tanjung. Bintang Nasirwan pun terang. Ia terpilih sebagai wakil bupati Kabupaten Lebong pertama setelah daerah ini mekar dari Kabupaten Rejang Lebong pada 2004. Terpilih menjadi wakil bupati, Nasirwan juga diberi kepercayaan memimpin DPW PPP Provinsi Bengkulu.

Seolah tak terbendung, di tahun 2008 ia kembali dihadapkan kepada pilihan berat. Nasirwan harus memilih antara wakil bupati atau ke DPR RI menyusul kasus hukum yang menjerat Anggota DPR RI asal PPP Al Amin Nasution. Nasirwan adalah peraih suara terbanyak kedua untuk menjadi Anggota DPR RI menggantikan Al Amin.

Pada akhirnya, Nasirwan memilih ke Senayan demi memperjuangkan kepentingan dan amanah yang lebih besar, yakni masyarakat Provinsi Bengkulu. Di DPR RI, Nasirwan duduk di Komisi yang antara lain membidangi pertanian.

Usai menuntaskan jabatan di DPR RI, Nasirwan pun kembali ke Lebong sebagai calon bupati di Pilkada 2010. Waktu itu ia berpasangan dengan Armansyah Mursalin SE.Tapi kali ini Nasirwan harus mengakui keunggulan rival. Pasangan Nasirwan-Armansyah hanya mampu menjadi peraih suara terbanyak ketiga kala itu.

Pilkada Lebong 2010 seolah menjadi titik klimaks politik Nasirwan. Sebab setelah itu ia lebih banyak mengurus keluarga. Anak-anak yang mulai beranjak dewasa menuntunnya untuk memberi bekal terbaik, yakni pendidikan.

Fokus Nasirwan tak sia-sia. Sang istri bisa menyelesaikan strata dua (S2) di Universitas Bengkulu dan terpilih sebagai pengurus PKH koordinator wilayah Bengkulu. Sementara ketiga putra-putrinya sukses menembus perguruan tinggi terbaik di negeri ini.

Anak pertama bernama Natasya (23 tahun) adalah alumni Universitas Padjajaran jurusan Fisipol; anak kedua bernama Dinda (19 tahun) kini semester akhir di Universitas Indonesia (UI) jurusan kesehatan masyarakat. Dinda ini punya IQ diatas rata-rata dengan nilai tes 140. Dinda menyelesaikan pendidikan pertama dan menengah hanya empat tahun. Masing-masing di SMP Akselerasi (2 tahun) dan SMA Akselerasi (2 tahun). Anak bungsunya bernam Muhammad Naufal Nisbah (18 tahun) kini juga sedang kuliah di Universitas Indonesia (UI) Fakultas Teknik Metalurgi.

“Kalau untuk anak, saya hanya memberikan bekal ilmu saja, untuk rezeki hidup harapan kami anak-anak silakan mencari sendiri,” cetus Nasirwan. “Kalau untuk pendidikan disiplin, bagi saya adzan itu ampuh. Adzan ini memanggil kita masuk surga, di sana kita belajar disiplin. Kalau ayah saya dulu, dari sholatlah kami belajar disiplin itu dan saya tularkan kepada anak-anak,” katanya.

Kembali ke Lebong

Di Pilkada Lebong 2015, Nasirwan sejatinya hampir saja kembali menjadi peserta. Ia sempat digadang-gadang maju sebagai calon bupati. Namun dengan berbagai pertimbangan, Nasirwan tak jadi maju. Kini Nasirwan kembali. Di Pilkada Lebong 2020, ia putuskan maju sebagai wakil bupati mendampingi Teguh REP. Keputusan itu dipilih bukan tanpa pertimbangan. Nasirwan mengakui sudah mengetahui sepakterjang Teguh REP dalam dunia politik. Bahkan dirinya pernah secara langsung merasakan sifat kepedulian seorang Teguh terhadap orang lain.

Dimasa-masa sulitnya, Nasirwan pernah membutuhkan biaya untuk pendaftaran anaknya ke Universitas Indonesia. Saat itu lah sosok Teguh REP membantu tanpa pamrih. “Bahkan kunjungan saya dilayani dengan sangat baik,” imbuh Nasirwan.

Jika terpilih bersama TEGUH REP, Nasirwan meyakini dalam beberapa tahun ke depan, Lebong bakal menjadi kabupaten yang maju dengan kualitas pembangunan fisik dan non fisik yang tepat dan terarah.

“Saya yakin, dengan kecerdasan Teguh dan pengalaman serta keilmuan dirinya, persoalan yang dikeluhkan di daerah ini bisa terjawab. Terutama persoalan yang ada di masyarakat,” katanya (Tegas/Mahmud)

About Author

Leave A Reply